BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asumsi yang mendasari teori
pemrosesan informasi adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar.
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya
interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal
individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan
untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu.
Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi
individu dalam proses pembelajaran. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran
meliputi delapan fase yaitu: motivasi, pemahaman, pemerolehan, penahanan,
ingatan kembali, generalisasi, perlakuan, umpan balik.
Kebanyakan orang belum mengenal
tentang teori pemrosesan informasi, maka dari itu kami menyusun makalah
ini.Semoga pembaca dapat lebih memahami tentang teori ini.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan
makalah ini adalah:
1. Apa itu teori pemrosesan informasi ?
2. Apa saja keunggulan teori pemrosesan
informasi ?
3. Apa saja manfaat teori pemrosesan
informasi ?
4. Apa saja hambatan dalam teori
pemrosesan informasi ?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah
ini adalah:
1. Mengetahui teori pemrosesan informasi.
2. Mengetahui keunggulan teori pemrosesan
informasi.
3. Memahami manfaat teori pemrosesan
informasi.
4. Memahami hambatan dalam teori
pemrosesan informasi.
1.4
Manfaat
Semoga menambah pengetahuan pembaca dan
bermanfaat bagi yang membacanya.
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Teori Pemrosesan Informasi
Asumsi yang mendasari teori ini
adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut
Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi
internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan
dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses
kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah
rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses
pembelajaran meliputi delapan fase yaitu:
1. Motivasi
yaitu fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan
suatu tindakan dalam mencapai tujuan tententu (motivasi intrinsik dan
ekstrinsik).
2. Pemahaman
yaitu individu menerima dan memahami Informasi yang diperoleh dari
pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perhatian.
3.Pemerolehan
yaitu individu memberikan makna/mempersepsi segala Informasi yang sampai pada
dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik.
4.Penahanan
yaitu menahan informasi/hasil belajar agar dapat digunakan untuk jangka
panjang. Hal ini merupakan proses mengingat jangka panjang.
5.Ingatan
kembali yaitu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada
rangsangan
6.Generalisasi
yaitu menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu.
7.Perlakuan
yaitu perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran
8.Umpan balik
yaitu individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.
Beberapa model telah dikembangkan di antaranya oleh Gagne (1984),
Gage dan Berliner (1988) serta Lefrancois, yang terdiri atas tiga macam ingatan
yaitu: sensory memory atau Ingatan Inderawi (II), Ingatan Jangka Pendek (IJPd)
atau short-term/working memory, Ingatan Jangka Panjang (IJPj) atau long-term
memory.
·
Ingatan Inderawi (II)
Sebagaimana
terlihat pada diagram di atas, suatu masukan/informasi yang terdapat pada
stimulus atau rangsangan dari luar akan diterima manusia melalui panca
inderanya. Informasi tersebut menurut Lefrancois akan tersimpan di dalam
ingatan selama tidak lebih dari satu detik saja. Ingatan tersebut akan hilang
lagi tanpa disadari dan akan diganti dengan informasi lainnya. Ingatan sekilas
atau sekelebat yang didapat melalui panca indera ini biasanya disebut ’sensory
memory’ atau ‘ingatan inderawi’. Berdasar pada apa yang dipaparkan di atas,
dapatlah disimpulkan bahwa, seperti yang telah sering dialami para guru dan
telah dinyatakan dua orang siswa di bagian awal tulisan ini, pesan atau
keterangan yang disampaikan seorang guru dapat hilang seluruhnya dari ingatan
para siswa jika pesan atau keterangan tersebut terkategori sebagai ingatan
inderawi. Alasanya, seperti sudah dipaparkan tadi, Ingatan Inderawi hanya dapat
bertahan di dalam pikiran manusia selama tidak lebih dari satu detik saja.
Pertanyaan penting yang dapat dimunculkan adalah: Bagaimana caranya agar
informasi atau keterangan seorang guru tidak akan hilang begitu saja dari
ingatan siswa?
·
Ingatan Jangka Pendek
(IJPd)
Suatu informasi baru yang mendapat perhatian siswa, tentunya akan
berbeda dari informasi yang tidak mendapatkan perhatian dari mereka. Suatu
informasi baru yang mendapat perhatian seorang siswa lalu terkategori sebagai
IJPd sebagaimana dinyatakan Gage dan Berliner (1988, p.285) berikut: “When we
pay attention to a stimulus, the informations represented by that stimulus goes
into short-term memory or working memory.” Jelaslah bahwa IJPd adalah setiap
Ingatan Inderawi yang stimulusnya mendapat perhatian dari seseorang. Dengan
kata lain, IJPd tidak akan terbentuk di dalam otak siswa tanpa adanya perhatian
dari siswa terhadap informasi tersebut. IJPd ini menurut Lefrancois dapat bertahan
relatif jauh lebih lama lagi, yaitu sekitar 20 detik. Sebagai akibatnya,
pengetahuan tentang perbedaan antara kedua ingatan ini lalu menjadi sangat
penting untuk diketahui para guru dan diharapkan akan dapat dimanfaatkan selama
proses pembelajaran di kelasnya. Sekali lagi, perhatian para siswa terhadap
informasi atau masukan dari para guru akan sangat menentukan diterima tidaknya
suatu informasi yang disampaikan para guru tersebut. Karenanya, untuk menarik
perhatian para siswa terhadap bahan yang disajikan, di samping selalu
memotivasi siswanya, seorang guru pada saat yang tepat sudah seharusnya
mengucapkan kalimat seperti: “Anak-anak, bagian ini sangat penting.”
Tidak hanya itu, aksi diam seorang guru ketika siswanya ribut, mencatat hal dan
contoh penting di papan tulis, memberi kotak ataupun garis bawah dengan kapur
warna untuk materi essensial, menyesuaikan intonasi suara dengan materi,
memukul rotan ke meja, sampai menjewer telinga merupakan usaha-usaha yang patut
dihargai dari seorang guru selama proses pembelajaran untuk menarik perhatian
siswanya. Namun hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menumbuhkan
kemauan dan motivasi dari dalam diri siswa sendiri, sehingga para siswa akan
mau belajar dan memperhatikan para gurunya selama proses pembelajaran sedang
berlangsung.
·
Ingatan Jangka Panjang
(IJPj)
Mengapa Ibukota Indonesia jauh lebih mudah diingat daripada Ibukota
Negeria? Untuk menjawabnya, perlu disadari adanya suatu kenyataan bahwa Jakarta jauh lebih sering disebut dan didengar namanya
daripada Lagos ;
misalnya dari buku, pembicaraan, televisi, ataupun koran. Karenanya, Jakarta sebagai Ibukota Indonesia kemungkinan besar sudah
tersimpan di dalam IJPj. Informasi yang sudah tersimpan di dalam IJPj ini sulit
untuk hilang, sehingga Jakarta
dapat diingat dengan mudah. Jelaslah bahwa IJPj adalah IJPD yang mendapat
pengulangan. Kata lainnya IJPj tidak akan terbentuk tanpa adanya pengulangan.
Dapatlah disimpulkan sekarang bahwa pengulangan merupakan kata kunci dalam
proses pembelajaran. Karenanya, latihan selama di kelas atau di rumah merupakan
kata kunci yang akan sangat menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan
suatu pengetahuan yang diingat dalam jangka waktu yang lama. Itulah sebabnya,
ada guru berpengalaman yang menyatakan kepada siswanya bahwa akan jauh lebih
baik untuk belajar 6 × 10 menit daripada 1 × 60 menit. Selain pengulangan atau
latihan, beberapa hal penting yang harus diperhatikan Bapak dan Ibu Guru agar
suatu pengetahuan dapat diingat siswa dengan mudah adalah:
1.
Sesuatu yang sudah dipahami akan lebih mudah diingat siswa daripada sesuatu
yang tidak dipahaminya. Contohnya, proses untuk mengingat bilangan 17.081.945
akan jauh lebih mudah daripada proses mengingat bilangan 51.408.791 karena
bilangan pertama sudah dikenal para siswa, apalagi jika dikaitkan dengan hari
kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 yang dapat ditulis menjadi 17–08–1945.
2.
Hal-hal yang sudah terorganisir dengan baik akan jauh lebih mudah diingat siswa
daripada hal-hal yang belum terorganisir. Contohnya, mengingat susunan bilangan
4, 49, 1, 16, 9, 36, dan 25 akan jauh lebih sulit daripada mengingat bilangan
berikut yang sudah terorganisir dengan baik: 1, 4, 9, 16, 25, 36, dan 49.
3.
Sesuatu yang menarik perhatian siswa akan lebih mudah diingat daripada sesuatu
yang tidak menarik hatinya. Acara televisi yang menarik perhatian para siswa
akan memungkinkan para siswa untuk duduk berjam-jam di depan TV dan jalan
ceriteranya akan mampu mereka ingat dengan mudah. Namun hal yang sebaliknya
akan terjadi juga, yaitu suatu proses pembelajaran yang tidak menarik perhatian
mereka dapat menjadi beban bagi siswa dan tentunya juga bagi para guru.
Teori pemrosesan informasi
adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan,
dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini
menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat
dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi
belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak
melalui beberapa indera. Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh
informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan
menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang
sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses
terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat
informasi itu akan hilang. Keberadaan register penginderaan mempunyai dua
implikasi penting dalam pendidikan.
Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap
rangsangan dikatakan sebagai persepsi.
Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek.Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang.
Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek.Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang.
Tulving (1993) dalam (Slavin,
2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian:
1. memori episodik, yaitu
bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman
pribadi kita,
2. memori semantik, yaitu suatu
bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum,
3. memori prosedural adalah
memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu. Komponen
pemrosesan informasi dipilih
berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses
terjadinya “lupa”.
Ketiga komponen tersebut adalah
:
1. Sensory Receptor (SR)
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari
luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, bertahan dalam
waktu sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu atau berganti.
2.Working Memory (WM) Working
Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh
individu. Karakteristik WM adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya
mampu bertahan kurang lebih 15 detik tanpa pengulangan) dan informasi dapat
disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi
dapat bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas disamping
melakukan pengulangan.
3.Long Term Memory (LTM) Long
Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yan telah dimiliki
individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, 3) sekali informasi disimpan
di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Persoalan lupa pada
tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali
informasi yang diperlukan. Sejalan dengan teori pemrosesan informasi, Ausubel
(1968) mengemukakan bahwa perolehan pengetahuan baru merupakan fungsi srtuktur
kognitif yang telah dimiliki individu. Reigeluth dan Stein (1983) mengatakan
pengetahuan ditata didalam struktur kognitif secara hirarkhis. Ini berarti
pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu
dapat mempermudah perolehan pengetahuan baru yang rinci Proses pengolahan
informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding),
diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan
mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
(retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan
proses penelusuran bergerak secara hirarkhis, dari informasi yang paling umum
dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang
diinginkan diperoleh. Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan
tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan.
Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang
berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
1.Menarik perhatian
2. Memberitahukan tujuan
pembelajaran kepada siswa
3. Merangsang ingatan pada pra
syarat belajar
4. Menyajikan bahan peransang
5. Memberikan bimbingan belajar
6. Mendorong unjuk kerja
7. Memberikan balikan
informative
8. Menilai unjuk kerja
9. Meningkatkan retensi dan
alih belajar
2.2 Keunggulan
strategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemrosesan informasi :
a.Cara berpikir yang berorientasi pada proses leboh menonjol
a.Cara berpikir yang berorientasi pada proses leboh menonjol
b. Penyajian pengetahuan
memenuhi aspek
c. Kapabilitas belajar dapat
disajikan lebih lengkap
d. Adanya keterarahan seluruh
kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai
e. Adanya transfer belajar pada
lingkungan kehidupan yang sesungguhnya \
f. Kontrol belajar memungkinkan
belajar sesuai irama masing-masing individu
g. Balikan informativ
memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang telah
dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
1. membantu terjadinya proses
pembelajaran sehingga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu
berubah
2. menjadikan strategi
pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses
lebih menonjol
3. kapabilitas belajar dapat
disajikan secara lengkap
4. prinsip perbedaan individual
terlayani
1. tidak semua individu mampu
melatih memori secara maksimal
2. proses internal yang tidak
dapat diamati secara langsung
3. tingkat kesulitan mengungkap
kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
4. kemampuan otak tiap individu
tidak sama
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
Asumsi yang mendasari teori ini
adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut
Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi
internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan
dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses
kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah
rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses
pembelajaran meliputi delapan fase yaitu: motivasi, pemahaman, pemerolehan,
penahanan, ingatan kembali, generalisasi, perlakuan, umpan balik. Keunggulan
strategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemrosesan informasi: cara berpikir yang berorientasi pada proses
leboh menonjol, penyajian pengetahuan memenuhi aspek, kapabilitas belajar dapat
disajikan lebih lengkap, adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada
tujuan yang ingin dicapai , adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan
yang sesungguhnya, kontrol belajar memungkinkan belajar sesuai irama
masing-masing individu, balikan informatif memberikan rambu-rambu yang jelas
tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja
yang diharapkan.
Manfaat teori pemrosesan informasi
antara lain :
membantu terjadinya proses pembelajaran sehingga individu mampu beradaptasi
pada lingkungan yang selalu berubah, menjadikan strategi pembelajaran dengan
menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol, kapabilitas
belajar dapat disajikan secara lengkap, prinsip perbedaan individual terlayani.
Hambatan teori pemrosesan
informasi antara lain :tidak
semua individu mampu melatih memori secara maksimal, proses internal yang tidak
dapat diamati secara langsung, tingkat kesulitan mengungkap kembali
informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan, kemampuan otak tiap individu tidak sama.
3.2 Saran
Sebagai calon guru yang baik kita
perlu menambah wawasan dan pengetahuan salah satunya tentang teori pemrosesan
informasi, agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Sehingga
nantinya diharapkan kegiatan menjadi efektif agar siswa mampu memahami materi
yang kita sampaikan.
BAB IV DAFTAR PUSTAKA
Artikel Catatan Kuliah Ari
Perwira http://kuliah.ariperwira.co.cc
Budiningsih,
Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta : Rineka Cipta
C. Asri Budiningsih. 2002. Belajar dan Pembelajaran.Yogyakarta : FIP UNY
C. Asri Budiningsih. 2002. Belajar dan Pembelajaran.
Dabutan, Jelarwin. 2008 .Srategi Pembelajaran Quantum Teaching dan
Quantum Learning
(http://www.facebook.com/note.php?note_id=158450929893)
Miller, P.H.
1993. Theories of Developmental
Psychology (3rd Ed.). W.H. Freeman & Co., New York.
Putra, Yovan.
2008. Memori dan Pembelajaran Efektif.
Bandung : Yrama Widya
Suciati. 2001. Teori Belajar dan Motivasi. Jakarta : Unversitas Terbuka
(PAU-PPAI-UT)

0 komentar:
Posting Komentar